12.17.2008

MAHASANTRI di Al-Hikmah Dua


Pekan kemarin (11-14 dec)merupakan temu Akbar mahasiswa Beasiswa Depag RI yang dikenal dengan CSS MoRa, yang di tempatkan di Ponpes Al-Hikmah 2, Benda Sirampog Brebes Jawa Tengah. Termasuk diantara sekitar 1036 Mahasiswa dari 9 Perguruan Tinggi bergengsi saya merasakan ungkapan yang luar biasa serta apresiasi dari berbagai tokoh terhadap komunitas ini. Mungkin sejak pertama kalinya diluncurkan program ini, baru tahun 2008 ini komunitas santri ini mulai dikenal oleh masyarakat, karena sudah membiayai seribu lebih santri berprestasi. 

Satu Hal yang saya dapat dari Al-hikmah, bahwa ilmu agama itu tidak hanya terbatas pada teks-teks yang tertlis dalam kitab-kitab kuning atau buku pakar-pakar agama. Dalam sambutan pada acara penutupan pengasuh ponpes al Hikmah mengemukakan bahwa orang akan menuju kesuksesan bila konsisten (istiqomah) pada dua hal, pertama adalah berdzikir dan berfikir. Berdzikir-pun tidak sebatas dengan ungkapan lafadz-lafadz nelainkan adala upaya mengingat Allah atau ciptaannya dengan bentuk apapun. lebih lanjut beliau menyitir suatu hadis bahwa yang dibamakan majlis dzikir adalah majlis dimana disitu dibahas halal dan haram, kebenaran dan kebatilan. 

Apa yang dikatakan beliau sangat nampak sekali dalam program dan bentuk pola pendidikan pada Al-Hikmah, santri tidak hanya diarahkan pada hal-hal yang berbau teks-teks agama, berbagai program semisal peternakan, perikanan, perkebunan hingga pengelasan-pun ada. Benar jika pengasuh punya santri pengamen yang menjadi kiayi diantara pengamen-pengemen, kiayi di antara pedagang. 

Hal inilah yang perlu ditekankan kepada para santri, agar mempunyai eksistensi yang tinggi dan kebanggaan dengan label santrinya. Dan inilah pesan beliau juga kepada santri-santri mahasiswa ini. 

Salut buat Al-Hikmah,semoga terus maju memperjuangkan santri, semoga bisa berkunjung lagi suatu saat.........!!!!



Banjir dan Banjir


Hati kecil saya menggerutu, "Musim hujan Banjir, Kemarau Panasnya luar biasa" mungkin itu ungkapan kejenuhan makhluk bumi yang sangat resah dengan fenomena alam yang kian hari makin tidak mengenakkan. Sungguh manusia sudah tidak betah di bumi, mungkin. 

Perasaan semacam itu wajar. memang manusia selalu tidak puas dengan apa yang telah terjadi, terlepas dari semua itu merupakan takdir dan kehendak Tuhan. Ketidak seimbangan ekosistem dan segala macam tetek bengeknya  merupakan faktor utama yang di akibatkan dari ulah manusia itu sendiri.

Contoh kecilnya adalah, saya sebagai mahasiswa yang mungkin hanya sebagai penduduk tidak tetap di Kota Surabaya yang hanya ruang lingkupnya kos dan kampus sungguh merasa jenuh dan tidak betah dengan cuaca di kota ini, pada musim kemarau cuaca luar biasa panasnya, bahkan kuliyah dikampuspun tidak kondusif gara-gara panas ini, bahkan muncul demonstrasi di salah satu fakultas menuntut adanya fasilitas Air Conditioner. Musim Hujan ini harus rela basah-basahan sepatu atau dengan terpaksa menjinjing sepatu ke kampus. Apalagi kesulitan ini harus dialami oleh sebuah keluarga, yang sering kemasuka air ke dalam rumahnya.

Jikabenar apa yang dikatakan oleh Pakar Drainase ITS, Ir Anggrahini bahwa Kota-Kota di Indonesia tidak Pernah lepas dari ancaman banjir(kompas-16-12-08), banjir merupakan bom waktu bagi setiap warga kota yang sewaktu-waktu bisa meledak dan tidak segan-segan merenggut nyawa. 

Entah bagaimanakah solusi yang tepat bagi permaslahan ini, berbagai kemelut Negeri belum juga tuntas, kasus terbaru adalah penodaan Agama oleh Lia Eden yang mengaku mendapat wahyu Tuhan, belum lagi maslah korupsi yang belum juga tuntas, apalagi manusia makin serakah dengan tidak memperhatikan keseimbangan ekosistem. Berbagai Duta-pun di bentuk, mulai duta lingkungan, hingga duta baca, duta tinju dan sebagainya, nemun Indonesia tetap belum bisa terlepas dari kebanjiran ini semua.